Coba pikirkan baik-baik Kalimat “rezeki udah ada yang ngatur” Berapa kali kalimat ini justru bikin kita jadi diam, bikin kita tiba-tiba merasa, “Ah, udahlah rebahan aja, nanti juga datang sendiri.” Atau pas kita lagi gagal, kita pakai kalimat ini sebagai obat supaya tidak merasa bersalah karena kurang berusaha.
Ini mungkin opini yang kurang populer dan mungkin bakal buat sebagian dari kalian agak defensif. Tapi disini saya ingin mengajak kalian untuk mikir bersama. Saya berani bilang cara kita memaknai kalimat rezeki udah ada yang ngatur itu seringkiali adalah sebuah kesalahan berpikir yang sangat fatal. sebuah logical fallacy.
Kesalahan yang membuat kita dan mungkin peradaban kita terus-menerus jalan di tempat. Saya pribadi juga sering merasa seperti itu. Kadang kalau lagi capek banget, burn out atau kerjaan gagal terus, rasanya gampang dan nyaman buat pasrah dan bilang, “Ya udahlah emang belum rezekinya, udah diatur yang di atas.” Nyaman kan ngomong gitu? Ego kita aman.
Kita enggak perlu nyalahin diri sendiri karena kurang skill atau kurang usaha. Tapi coba kita bendah pelan-pelan. cara kerjanya alam semesta yang diciptakan Tuhan? Coba kita tarik mundur jauh ke belakang. Kita ini hidup di alam semesta yang berjalan pakai sistem. Tuhan menciptakan yang namanya sunatullah, hukum alam, hukum kausalitas.
Ada sebab, ada akibat, ada gravitasi, ada dermodinamika. Kalau kamu lompat dari lantai 10, kamu jatuh. Tuhan enggak akan tiba-tiba memunculkan tangan raksasa buat nangkap kamu di udara cuma karena kamu rajin ibadah. Hukum gravitasinya tetap berlaku untuk siapa saja, beriman ataupun tidak.
Nah, saya jadi mikir keras, Kenapa ya pas soal rezeki kita tiba-tiba mikir kalau rezeki itu kebal dari hukum sebab akibat ini. Kenapa kita ngerasa rezeki itu sistemnya magical, mistis, jatuh dari langit gitu aja? Tanpa kita harus ngikutin hukum ekonomi, hukum supply and demand atau hukum ciptaan nilai. Mungkin kalian ada yang berpikir, tapi kan rezeki itu dari Tuhan.
Buktinya orang ateis di luar sana yang enggak percaya Tuhan bisa kaya raya. Berarti itu murni hasil kerja keras, bukan Tuhan yang ngatur. Nah, dari situ justru itu poin pentingnya. Orang-orang ateis itu kaya raya dan makmur karena mereka sadar atau tidak sadar mematuhi sunatullah dalam hal rezeki. Mereka riset, mereka bikin produk inovatif, mereka kerja 14 jam sehari, mereka memecahkan masalah orang banyak.
Tuhan itu maha adil, Siapa yang menanam, dia yang menuai. sistemnya bekerja dan adil untuk siapa saja yang mau masuk dan main di dalam sistem ini. Kalau kita yang ngaku beriman ini cuma duduk manis, nunggu keajaiban sambil ngerasa, “Ah, rezekiku aman kan saya beriman.” Ya, kita pasti digilas sama mereka yang bergerak mematuhi hukum kausilitas Tuhan.
Pernahkah kalian mendengar perdebatan epik soal rezeki antara dua raksasa pemikir Islam zaman dulu, Imam Malik dan muridnya, Imam Syafi’i. Ini cerita yang sering bikin saya senyam-senyum sendiri kalau lagi mentok mikirin kerjaan. Jadi gini ceritanya. Suatu hari mereka diskusi. Imam Malik berpendapat kalau rezeki itu datang tanpa perlu dicari.
Beliau mengutip hadis terkenal soal burung. Seandainya kalian bertawakal dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberi rezeki seperti burung. Pagi keluar dalam keadaan lapar, sore pulang perut kenyang. Menurut Imam Malik, burung itu enggak punya akal buat nyari duit, tapi Tuhan kasih makan. Berarti rezeki itu murni pemberian, enggak usah ngoyo.


