Tapi Imam Syafi’i, muridnya yang cerdas dan kritis ini punya pandangan yang beda. Beliau bilang, “Guru, kalau burung itu cuma diam di sarangnya, ulat enggak akan datang sendiri ke paruhnya. Burung itu harus terbang untuk dapat rezekinya.” Keduanya ngotot sama pendapat masing-masing. Sampai akhirnya Imam Syafi’i pun pamit keluar.
Di jalan dia ngelihat ada rombongan orang lagi panen anggur yang kesulitan. Imam Syafi’i akhirnya turun tangan ikut bantu-bantu kerja fisik bawa anggur. Sebagai upahnya, beliau dikasih beberapa ikat anggur yang manis dan enak. Syafi’i senang banget. Dia bawalah anggur itu ke gurunya, Imam Malik sambil senyum penuh kemenangan.
Syafii bilang, “Lihat guru, seandainya tadi saya enggak keluar dan enggak bantu mereka kerja, anggur ini enggak akan pernah sampai ke tangan saya.” Bukti bahwa rezeki harus dicari dengan usaha. Imam Malik pun menerima anggur itu, memakannya dengan santai, lalu tersenyum dan bilang, “Dan lihatlah saya wahai Syafi’i.
Saya dari tadi hanya duduk di sini bertawakal kepada Allah. Tapi Allah menugaskanmu untuk bekerja keras memeti anggur di luar sana lalu mengantarkannya sampai ke mulut saya.” Bom. Mungkin pas dengar ini kalian tertawa atau ngerasa, “Tuh kan Imam Malik bener. Mending duduk aja nanti ada yang nganterin. Tahan dulu, jangan salah ngambil kesimpulan.
Jangan lupa satu hal krusial. Dalam cerita itu tetap ada orang yang harus bekerja. Kalau Syafi’i ikut-ikutan diam di masjid kayak Imam Malik, keduanya enggak bakal makan anggur hari itu. Alam semesta ini butuh penggerak. Dan lucunya kita ini seringkali belum berada di level spiritualitas setinggi Imam Malik yang hatinya udah sangat terhubung kepada Tuhan tanpa sedikit pun keraguan.
Tapi kita berlagak pengin rezeki yang disuapin kayak beliau. Lebih seringnya dogma rezeki udah diatur ini dipakai buat menjustifikasi kemalasan kita. Ini tuh bahaya banget. Di masa lalu pemikiran fatalistik kayak gini kalau di sejarah filsafat Islam mirip-mirip paham Jabariah. Sering dipakai sama penguasa-penguasa korup buat membungkam protes rakyat.
Bayangkan kamu hidup di zaman rezim otoriter. Kamu miskin, melarat, kelaparan. Terus ada elit politik yang bilang ke kamu, “Sabar ya, emang takdir kalian miskin. Rezeki udah diatur Tuhan. Tolong terima aja dengan ikhlas. Sementara mereka sendiri hidup foya-foya dari hasil memeras tenaga rakyat. Gila enggak tuh cara pikir kayak gini? Membunuh daya juang, ngebunuh nalar kritis, membuat sebuah bangsa kena penyakit, learn helplessness, merasa tak berdaya karena merasa semuanya udah di-setting dari sananya.
Sayangnya mentalitas ini masih sisa sampai sekarang di kepala kita. Kenapa gajiku kecil? Ya emang rezekinya begini. Bukannya mikir, “Oh, mungkin karena skillku belum langka, mungkin saya kurang networking, mungkin juga saya harus belajar coding atau belajar jualan.” Coba kita redefinisi apa sih sebenarnya maksud kata rezeki udah ada yang ngatur? Gini, coba bayangin alam semesta ini kayak sebuah game dunia terbuka atau sebuah algoritma raksasa.
Programmer dari game ini udah mengatur source code-nya. Aturannya begini. Kalau karaktermu nebang pohon pakai kapak, kamu dapat kayu. Kalau kamu baca buku, level intelligence karaktermu naik. Tapi kalau karaktermu diam aja, kamu enggak dapat apa-apa dan pelan-pelan kelaparan. Aturannya sudah fix, udah diatur sedemikian rupa.
Nah, Tuhan itu sang programmer yang agung. Dia sudah ngatur algoritmanya. Jadi kata diatur di sini bukan berarti dari kamu lahir sampai kamu mati, saldo rekening bank kamu udah dikunci di angka sekian dan enggak akan bisa berubah walau kamu banding tulang sampai berdarah-darah. Kalau gitu konsepnya, buat apa ada ayat yang bilang bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu sendiri yang mengubahnya? Buat apa Tuhan nyuruh kita nebar di muka bumi habis salat Jumat buat nyari karunianya? Diatur itu maksudnya Tuhan mengatur
sistem dan persamaannya. Misalnya skill yang bagus plus konsistensi plus kejujuran, plus doa sama dengan rezeki A. Kalau skill biasa aja plus malas plus rebahan scroll TikTok doang rezeki B. Paham kan maksud saya? Kata rezeki sudah diatur itu harusnya enggak akan bikin kita lemas, tapi justru ngasih kita rasa aman yang luar biasa.


