Kita maksimalkan variabel yang bisa kita kontrol. Ikhtiarnya, belajarnya, kerjanya, ngasah skill-nya. Setelah semua itu mentok, kita lepaskan sisa miliaran variabel lainnya yang enggak bisa kita atur kepada zat yang maha mengetahui. Kita do best. Lalu kita surrender bukan surrender duluan sebelum doing our best. Jadi teman-teman kalau malam ini kita bisa narik satu benang merah atau suatu pencerahan dari obrolan panjang kita ini, konsep dari kalimat rezeki udah ada yang ngatur, itu bukan lampu merah yang menyuruh kita berhenti berusaha. Sama
sekali bukan. Itu adalah lampu hijau yang sangat terang menderang. Coba resapi kata-kata ini pelan-pelan. Karena rezeki itu udah ada yang ngatur dan yang ngatur itu zat yang maha adil, maha teliti, maha melihat. Maka kamu enggak perlu khawatir sainganmu bakal merebut jatahmu. Asalkan kamu sudah menjemput jatah itu dengan caramu sendiri.
Jeri payahmu enggak akan pernah ketukar. Air matamu pas lagi struggle belajar hal baru sampai tengah malam. Capeknya badanmu pas lembur ngerjain projek. Rasa sakit dari penolakan-penolakan interview kerja. Pahitnya rugi pertama kali nyoba bisnis. Resmi semua data itu masuk ke dalam sistem pengetahuan Tuhan. Enggak ada satuun usaha kalian yang menguap sia-sia ke udara.
Semuanya dicatat. Semuanya dikalkulasi dalam algoritmanya. Mungkin peot-nya enggak cair besok, mungkin cairnya tahun depan, mungkin cairnya dalam bentuk kesehatan atau dalam bentuk pasangan yang baik, tapi insyaallah pasti cair. Kalimat rezeki udah ada yang ngatur, itu artinya tenang saja, sistemnya berfungsi dengan sempurna.
Kamu kerjain aja bagianmu dengan gila-gilaan. Dia pasti akan menunaikan bagiannya. Jangan sampai kita enggak ngerjain bagian kita, tapi kita tengengesan nuntut Tuhan ngasih bagiannya. Itu namanya egois. Sebelum video ini selesai dan sebelum kalian nutup video ini untuk kembali ke rutinitas kalian, saya pengin ninggalin satu pertanyaan.
Kalau memang malam ini detik ini kita semua benar-benar percaya bahwa rezeki kita sudah dijamin, sudah disediakan secara presisi, dan diatur seadil-adilnya oleh yang maha kuasa. Lalu ketakutan macam apa yang sebenarnya selama ini menahanmu untuk melangkah? Apakah kamu selama ini benar-benar percaya pada pengaturannya? Ataukah kamu kita hanya sedang mencari kutipan religius yang indah? untuk menutupi rasa malas dan rasa takut kita akan kegagalan.


