Scroll untuk baca artikel
Uncategorized

Dunia Tahu Netanyahu Pemantik Konflik, Donald Trump Munafik dan Pecundang

32
×

Dunia Tahu Netanyahu Pemantik Konflik, Donald Trump Munafik dan Pecundang

Sebarkan artikel ini

Di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika akhir-akhir ini, sekutu tersayang Amerika Serikat yakni Israel terus menghasut Donald Trump untuk segera menyerang Iran. Namun dengan kesadaran penuh dan tahu kalau satu serangan ke Iran akan berakibat fatal pada perekonomian dunia. Donald Trump terus mencoba untuk menahannya dan menyebut tak perlu untuk angkat senjata.

Nah, ini nih jahatnya Netanyahu. Langsung kelihatan dia hobi banget bikin kerusuhan. Saat tahu Amerika tak mungkin menyerang Iran, Netanyahu yang tangannya gatal langsung menyerang Gaza dengan dalih ingin menghancurkan para pasukan Hamas.

Padahal rudal-rudal yang Israel tembakan dampaknya sangat besar. Banyak warga-warga sipil tidak bersalah yang harus terkena imbasnya. Melihat apa yang dilakukan oleh Israel, jelas dunia tidak tinggal diam. Di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali naik ke permukaan. Bukan cuma perang urat saraf biasa, tapi konflik yang kalau salah langkah sedikit saja bisa bikin dunia ikut kebakar.

Nama Iran dan Amerika memang sudah lama tidak akur. Sanksi ekonomi, ancaman militer, hingga saling pamer kekuatan jadi menurutin hubungan dua negara ini. Tapi kali ini situasinya beda. Karena satu kesalahan kecil dampaknya bukan cuma regional tapi global.

Di balik ketegangan ini, ada satu negara yang selalu muncul di balik layar. Sekutu paling setia Amerika Serikat di Timur Tengah, Israel. Dalam beberapa pekan terakhir, Israel disebut-sebut terus menghasut Donald Trump agar Amerika segera mengambil langkah militer terhadap Iran. Narasinya klasik. Iran dianggap ancaman. Iran dituding berbahaya dan Iran disebut harus dihentikan sebelum terlambat. Tekanan itu datang bukan sekali dua kali. Israel secara terbuka dan tertutup terus mendorong opsi perang. Karena bagi mereka, selama Iran masih berdiri dengan kekuatan militernya, Israel merasa posisinya tidak aman.

Tapi menariknya, kali ini Donald Trump justru menahan diri. Trump yang selama ini dikenal keras, nyentrik, dan sering ambil keputusan kontroversial justru sadar satu hal penting. Perang dengan Iran bukan perang biasa. Iran bukan negara kecil. Iran punya sekutu dan Iran punya pengaruh di Timur Tengah. Mereka juga punya kekuatan militer yang tidak main-main. Dan yang paling ditakuti Donald Trump, Iran bisa kembangkan senjata nuklir kurang dari 2 minggu. Dan itulah yang selama ini selalu diusik oleh Trump untuk meminta Iran men-stop program nuklirnya.

Iran sebenarnya setuju-setuju saja, tapi makin ke sini permintaan Donald Trump makin enggak masuk akal. Selain nuklir, mereka meminta Iran untuk melucuti semua senjatanya, termasuk penghentian kembangkan senjata rudal dan memutus hubungan dengan para sekutu. Jelas Iran tidak bodoh. Mereka dengan lantang menentang dan menolak tunduk ke Amerika dan siap angkat senjata jika memang mereka menginginkannya. Dan itu dipertegas oleh pernyataan ayatullah khemenei baru baru ini.

Dan yang paling krusial, Iran berada di wilayah strategis jalur energi dunia. Satu serangan ke Iran bisa langsung mengacaukan harga minyak dunia. Bisa bikin rantai pasok global terguncang. Bisa menyerat banyak negara ke dalam krisis ekonomi baru. Trump paham betul hal itu. Dia tahu sekali Amerika angkat senjata, yang kena imbas bukan cuma Iran, tapi ekonomi dunia. Makanya Trump berkali-kali menyebut bahwa perang bukan solusi, bahwa masih ada jalan lain tanpa harus menekan tombol rudal.

Di titik inilah cerita berubah arah. Ketika Amerika memilih menahan diri, wajah asli Benjamin Netanyahu perlahan mulai terlihat. Netanyahu Perdana Menteri Israel dikenal sebagai sosok yang agresif. Bagi banyak pihak, dia bukan tipe pemimpin yang sabar menunggu. Dan ketika tahu Amerika tidak akan menyerang Iran dalam waktu dekat, Netanyahu seperti kehilangan kesabaran. Alih-Alih menahan diri, Israel justru memindahkan fokusnya dan sasaran itu adalah Gaza. Dengan dalih klasik menghancurkan Hamas, Israel kembali melancarkan serangan besar-besaran ke jalur Gaza.

Rudal demi rudal ditembakkan. Serangan udara terus dilancarkan dan wilayah yang sudah sempit kini semakin hancur. Masalahnya serangan ini bukan operasi militer presisi seperti yang selalu diklaim. Dampaknya luar biasa besar. Rumah sakit rusak, sekolah hancur, pemukiman sipil rata dengan tanah. Dan yang paling tragis, warga sipil tak bersalah jadi korban utama. Anak-anak, perempuan, orang tua, mereka yang tidak memegang senjata, tidak ikut perang, justru harus menanggung dampaknya.

Dan di sinilah banyak pihak mulai bertanya, “Benarkah ini murni soal Hamas atau Gaza hanya jadi pelampiasan karena rencana besar menyerang Iran gagal terwujud?” Banyak pengamat menilai ketika Israel gagal mendorong Amerika menyerang Iran, Gaza kembali dijadikan panggung kekuatan. Seolah ingin menunjukkan bahwa Israel tetap bisa bertindak keras tanpa perlu restu siapapun. Reaksi dunia. Namun kali ini reaksi dunia berbeda. Dunia tidak tinggal diam. Gelombang kecaman datang dari berbagai penjuru. Negara-negara Eropa mulai bersuara lebih keras. Organisasi kemanusiaan internasional menyebut kondisi Gaza sebagai bencana kemanusiaan.

Demonstrasi besar-besaran terjadi di banyak negara. Bukan cuma di Timur Tengah, tapi juga di Amerika, Eropa, hingga Asia. Media sosial dipenuhi rekaman penderitaan warga Gaza. Gambar anak kecil tertimbun puing, tangisan keluarga yang kehilangan rumah. Semua itu membuat narasi lama mulai runtuh. Bahkan sekutu-sekutu Israel mulai berada di posisi canggung. Mendukung penuh berarti menutup mata dari penderitaan sipil. Diam berarti dianggap ikut bersalah.

Serangan Israel ke Gaza baru-baru ini langsung mendapatkan respon dari Erdogan dengan menyebut Netanyahu sebagai seorang teroris yang sesungguhnya.

“Khayalan tentang tanah yang dijanjikan akan berujung pada kekecewaan dan kekalahan besar. Lihat, setahun yang lalu saya menyatakan bahwa Israel dihadapkan pada pilihan antara menjadi sebuah negara dan menjadi organisasi teroris. Sejak itu, Israel telah bertindak seperti organisasi teroris, Zionis melakukan genosida paling brutal tahun lalu di Gaza. Tidak perlu diragukan lagi. Israel adalah organisasi teroris Zionis” Tegas Erdogan

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghai mengacam keras serangan Israel ke Gaza termasuk area pemukiman, kem pengungsi, dan pusat polisi yang menyebabkan banyak korban sipil. Ia menyebut pelanggaran ini sebagai bukti kelanjutan atau kebijakan genosida kolonial selama 80 tahun terhadap Palestina yang didukung oleh Amerika Serikat dan beberapa sekutu Eropa seperti Jerman dan Inggris. Bagai mendesak sekb Antonio Guteres serta penjamin kesepakatan gencatan senjata untuk meminta pertanggungjawaban Israel atas gencatan perang di Gaza dan tepi barat serta mendukung bantuan kemanusiaan tanpa hambatan.

Iran juga menegaskan bahwa serangan-serangan ini adalah bagian dari pola agresi berkelanjutan Israel. Meskipun ada gencatang senjata. Mereka menyoroti ratusan pelanggaran sejak kesepakatan berlaku di Oktober 2025 yang telah menewaskan ratusan warga Palestina. Iran menyerukan solidaritas internasional untuk menghentikan kejahatan berkelanjutan ini.

Menurut sumber tersebut, 10 warga Palestina termasuk tiga anak tewas akibat tembakan artileri Israel di lingkungan Inun dan Tufah di Gaza.

Dunia makin tidak percaya dengan Amerika. Sementara itu, Amerika Serikat berada di posisi sulit. Di satu sisi, Israel adalah sekutu strategis. Di sisi lain, tekanan publik global semakin kuat. Trump yang sejak awal menolak perang dengan Iran kini dihadapkan pada realita baru. Serangan Israel ke Gaza berpotensi menciptakan konflik yang lebih luas. Dan jika situasi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Timur Tengah kembali jadi ladang perang terbuka. Pertanyaannya sekarang, sampai kapan pola ini terus berulang?

Setiap kali ketegangan regional meningkat, warga sipil Palestina selalu jadi korban pertama. Setiap kali diplomasi buntu, bom dan rudal selalu jadi jawaban. Padahal yang paling menderita bukan para politisi, bukan para jenderal, tapi rakyat biasa. Dunia kini berada di persimpangan. Apakah konflik ini akan kembali dibiarkan seperti sebelumnya atau justru menjadi titik balik di mana tekanan global benar-benar memaksa perubahan?

Satu hal yang pasti, ketegangan Iran dan Amerika membuka tabir banyak hal. Siapa yang benar-benar ingin stabilitas dan siapa yang justru hidup dari konflik? Israel mungkin bisa terus berdalih soal keamanan. Namun gambar kehancuran Gaza terlalu nyata untuk diabaikan. Dan selama dunia masih melihat, selama suara publik masih terdengar, narasi lama tidak akan lagi semudah itu dipercaya.

Dan Board of Peace yang digembar-gemborkan oleh Donald Trump hanyalah omong kosong belaka. Nyatanya Israel dengan enteng mengangkat senjata dan Amerika hanya diam tak memberikan respon apa-apa. Dunia seolah sudah muak dan tak percaya lagi dengan perkataan Trump dan para sekutunya.

Dan terlepas dari apapun pada akhirnya konflik ini memperlihatkan satu kenyataan pahit. Ketika rencana besar menyerang Iran gagal terwujud, Gaza kembali jadi korban. Bukan karena mereka ancaman dunia, tapi karena mereka paling lemah untuk diserang.

Amerika berbicara soal perdamaian, tapi memilih diam saat senjatanya dipakai sekutunya. Israel berdalih keamanan, Tapi yang hancur justru rumah warga sipil. Dan Netanyahu semakin terlihat bukan penjaga stabilitas melainkan pemantik konflik. Dunia kini mulai sadar bahwa yang paling menderita dari semua ini bukan para pemimpin, bukan para jenderal, melainkan rakyat biasa yang tak punya pilihan selain bertahan hidup. Selama kekerasan terus dijadikan alat politik, selama nyawa sipil dianggap angka. Maka perdamaian hanyalah slogan kosong.

Penulis: Munawir