Scroll untuk baca artikel
IslamiMotivasi

Di Balik Ilusi Kalimat “Rezeki Udah Ada Yang Ngatur”

14
×

Di Balik Ilusi Kalimat “Rezeki Udah Ada Yang Ngatur”

Sebarkan artikel ini

Aman bahwa usaha kita enggak akan pernah dikhianati sama sistemnya. Bayangin sih betapa kacaunya dunia ini kalau rezeki tidak diatur. Kamu kerja keras, bangun pagi, belajar tiap malam, tapi karena alam semesta enggak punya aturan sebab akibat yang adil. Hasilnya bisa nol besar secara acak. Orang-orang yang cuma ditur seharian tiba-tiba nemu emas di kasurnya.

Kan jadi keos. Justru karena udah diatur kita jadi punya pegangan. Oh, asalkan saya naikin value diri saya, asalkan saya kerja jujur, rezeki saya sudah diatur untuk pasti ikut naik. Hah. Tapi ya lagi-lagi saya harus jujur sama kalian dan sama diri saya sendiri. Kadang realita di lapangan itu enggak sematematis itu.

Dan di titik inilah seringkiali logika saya mentok. Saya yakin kalian juga pernah ngalamin. Pernah kan ngelihat orang-orang yang kerjanya benar-benar banding tulang dari subuh sampai tengah malam jadi kuli panggul misal. Tapi secara finansial hidupnya pas-pasan banget. Sementara ada eksekutif yang kerjanya kelihatan cuma duduk meeting di cafe, main golf, HP-an, tapi duitnya miliaran.

Fenomena ini dulu sering bikin saya marah bikin konsep sebab akibat tadi yang saya jelasin terasa enggak adil. Nah, gimana sih jelasinnya secara rasional? Saya merenung lama soal ini. Baca-baca soal filsafat ekonomi, merenungi ayat-ayat sampai akhirnya saya sadar akan batasan pengetahuan saya sendiri. Algoritma Tuhan itu variabelnya miliaran.

Dan otak kita yang cuma sekepalan tangan ini seringnya hanya bisa memproses satu atau dua variabel saja. Kita hanya bisa ngelihat variabel jam kerja fisik atau jumlah keringat yang keluar. Kita enggak bisa melihat variabel kasat mata dan tak kasat mata lainnya. Kita enggak ngelihat variabel leverage dari pengetahuan.

Kita enggak ngelihat variabel networking. Dan yang paling misterius, kita enggak bisa ngelihat variabel spiritual kayak timing, takaran cobaan yang lagi Tuhan kasih buat orang itu, keberkahan hingga bentuk rezeki itu sendiri. Mungkin Bapak kuli panggul yang gajinya harian itu rezekinya diatur melimpah di variabel yang kita enggak lihat.

Mungkin di variabel kesehatan fisiknya yang luar biasa kuat, di variabel hati yang selalu merasa cukup atau qanaah, atau bahkan di variabel anak-anaknya yang tumbuh jadi orang yang saleh dan berbakti. Sementara si bos yang duitnya banyak mungkin rezekinya lagi disempitkan di variabel ketenangan jiwa. Punya uang miliaran tapi tiap hari dikejar paranoid inflasi, pajak, atau keluarganya yang hancur berantakan.

Perlu diingat di dalam literatur Islam yang dalam, harta itu beda dengan rezeki. Harta itu apa yang kamu kumpulkan? Rezeki itu apa yang benar-benar kamu nikmati yang menjadi darah dagingmu, yang membawa manfaat buat kehidupanmu. Kamu punya tabungan 10 miliar, itu harta. Tapi kalau kamu sakit diabetes dan cuma bisa makan bubur hambar, ya rezeki makananmu cuma bubur hambar itu.

Sisa uang kalian itu rezeki dokter, rezeki suster, atau kelak jadi rezeki ahli warismu, bukan rezekimu. Di titik absurd dan penuh misteri inilah yang di luar kapasitas nalar manusia. Di situlah konsep tawakal punya tempat yang sesungguhnya. Tawakal itu letaknya di ujung bukan di depan.