-->
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

4 Hal Yang Dapat Melembutkan dan Mengeraskan Hati

Dalam Kehidupan ini peranan hati yang lembut ataupun hati yang keras sangat berpengaruh dalam menjalani aktifitas kita. oleh karenanya ada hal hal yang harus kita perhatikan untuk terhindar dari hati yang keras, karena hati yang keras sudah pasti akan menjadikan kita sulit untuk belajar untuk menerima nilai-nilai kebenaran.


Dalam tulisan ini saya akan mencoba bercerita tentang Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu misalnya yang suka lapar untuk melembutkan hati.

Sesungguhnya ada 4 hal yang dapat melembutkan dan mengeraskan hati kita :

1. Sedikit Berbicara

Lebih banyak diam daripada berbicara akan membantu melembutkan hati. Malah bicaranya itu lebih banyak kepada dzikir. Sebagaimana pernah salah satu seorang tabi'in yang bernama ar Rabi' ibnu Khutsaim Rahimahullah. Tabiin itu adalah mereka yang berjumpa dengan sahabat, tapi tidak berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Melembutkan dan Mengeraskan Hati
Ilustrasi Hati ( Foto : Ist )

Imam ar-Rabi ibnu Khutsaim ini adalah murid dari Abdullah bin Mas'ud Radhiyallahu 'anhu. Apa sifat yang ada pada Imam ar-Rabi' ini? Saking mulia dan luar biasa ketakwaannya, kalau kita duduk bersama dengan Imam ar-Rabi ibnu Khutsaim selama satu tahun, Imam ar-Rabi tidak akan memulai untuk berbicara.


Bayangkan Saudara, kita duduk sama Imam ar-Rabi ibnu Khutsaim selama satu tahun, dia tidak akan memulai untuk ber bicara. Dia hanya akan menjawab pertanyaan, "Apa kabar?" "Baik." "Assalamu'alaikum!" "Wa'alaikum salam."

Itu saja.

Biasanya kalau ada orang yang seperti ini, maka orang itu akan dianggap tidak normal. Dia dianggap sedang sakit jiwa. Karena dia diaaam saja, atau lebih banyak diamnya. Tapi kalau ada orang yang enak ngobrolnya, pasti orang-orang akan bilang, "Kalau ngobrol sama kamu mah enak, enggak bosan." Padahal isi pembicaraannya adalah dosa semua.

Jadi yang dapat melembutkan hati adalah memperbanyak diam dan sedikit berbicara. Dalam berbicara kita harus berhati-hati dan tidak berbicara sembarangan.

2. Tidak Banyak Bergaul

Apalagi pergaulan yang tidak baik, yang enggak jelas. Kadang-kadang kita tidak berhati-hati dengan pergaulan kita.

Jadi yang dapat melembutkan qalbu dan membantu kekhusyu'an kita adalah sedikit bergaul, apalagi bergaul sama orang yang tidak menambah iman kita, justru malah merusak iman kita.

"Kita dugem yuuuk!"


"Kita nongkrong di kafe ini yuk!"

"Kita nonton yuk!"

Yang ditakutkan adalah justru perbuatan kemaksiatan itu sudah menjadi kebiasaan, sehingga kita tidak bisa membedakan lagi mana maksiat dan mana yang tidak.

Berhati-hatilah!

Bergaullah dengan orang-orang shaleh yang kita rasa orang yang shaleh ini bisa menasehati kita sehingga dapat meningkatkan iman kita, menambah ilmu kita.

3. Sedikit Tidur

Sedikit Tidur Juga Dapat dapat melembutkan hati dan membantu khusyu', Apalagi di malam hari.

Kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Sebaik-baik shalat itu adalah shalat Nabi Daud."

Bagaimanakah shalat Nabi Daud itu?

Setelah isya dia tidur separo malam. Misalkan kalau malam hari itu kurang lebih adalah 8 jam, maka dia tidur selama 4 jam. Kemudian dia bangun untuk shalat malam selama 2 jam, kemudian tidur lagi 2 jam yang tersisa. Begitulah cara shalat Nabi Daud. Dan sebaik-baik puasa adalah puasa Nabi Daud, yaitu sehari puasa sehari tidak, dan seterusnya.

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، إن أحب الصيام إلى الله صيام داؤد وأحب الصلاة إلى الله صلاة داود عليه السّلام، كان ينام نصف الليل ويقوم ثلثه
وينام سدسه، وكان يصوم يوما ويفطر يوما

Dari Abdullah bin Amru Radhiallahu 'anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud, sedangkan shalat yang paling disukai Allah adalah juga shalat Nabi Daud 'Alaihis salam. la tidur hingga pertengahan malam, kemudian bangun (shalat malam) pada waktu sepertiganya, lalu ia tidur kembali pada seperenamnya. Kemudian ia berpuasa sehari dan berbuka sehari." (HR. Muslim)

4. Sedikit Makan

Yang terakhir ini, sedikit makan juga dapat melembutkan hati dan membantu khusyu'. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Makanan yang sedikit itu cukup untuk berhari-hari."

Dalam menikmati rezeki makan dan minum, hendaklah manusia mengendalikan nafsunya. Karena tidak sedikit orang yang lupa ketika dihadapkan pada makanan yang enak, mereka berlebih-lebihan dalam mengonsumsinya. Sedangkan Allah berfirman dalam QS. Al-A`raf ayat 31, yang berbunyi:

وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

Artinya: “…. makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al a’rof: 31)

Kalau memang terpaksa mau makan enak, maka isilah perut kita dengan sepertiga makan, sepertiga minum dan sepertiga untuk napas. Jangan makan sampai sesak napas. Harus ada sebagian kita sisakan ruang untuk napas kita, agar kita bisa berjalan dan bisa beribadah dengan nikmat.

Pembaca yang dirahmati Allah, oleh karena itu maka yang membuat hati kita menjadi keras adalah banyak berbicara, banyak bergaul, banyak tidur, dan banyak makan.

Saya akan memberikan latihan kepada Saudara pembaca semua, cobalah sebelum tidur, usahakan duduk sendirian, dalam kesepian, berdzikir sambil bertafakkur. Hal ini sangatlah bermanfaat bukan hanya untuk ibadah dan iman kita tapi juga untuk kesehatan kita.


Abu Dzar suka lapar karena untuk melembutkan hati. Dan ia suka sakit, karena kesabaran atas rasa sakit dapat menghapuskan dosa. Kenapa ia suka sakit, karena kesabaran atas rasa sakitnya dapat menggugurkan dosa-dosanya. Kemudian ia sangat menyukai kematian. Ia pernah ditanya, "Kenapa kamu suka dengan kematian?" ia menjawab, "Aku suka dengan kematian karena aku sangat ingin berjumpa dengan Allah!"

Sekarang yang jadi pertanyaan saya adalah, jika kita ditakdirkan terpilih untuk mati saat ini, "Apakah kita ingin berjumpa dengan Allah ataukah kita malu berjumpa dengan Allah karena masih banyak dosa dan maksiat yang kita lakukan serta kita belum beribadah dan beramal shaleh dengan sebaik-baiknya?"

Semoga pembahasan ini bisa membuat hati kita menjadi lembut dan kita bertambah khusyu' dalam beribadah. Dan semoga istighfar yang selalu kita ucapkan dapat membawa ampunan dosa dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Munawir M. Kaili
Munawir M. Kaili A Father | Who dedicated his life to his Religion, family and Nation.


close