Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hadits - Hadits Palsu Tentang Keutamaan Shalat Dan Puasa Di Bulan Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram, yang berarti bulan yang dimuliakan. Setiap bulan Rajab, yang diminta Rasulullah adalah keberkahan di bulan ini, kemudian keberkahan di bulan Sya’ban, hingga dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Namun, Ada beberapa Hadist-hadist yang lemah bahkan palsu yang berkaitan dengan keutamaan amalan shalat dan puasa dibulan rajab.

Hadits - Hadits Palsu Tentang Keutamaan Bulan Rajab

Berikut Beberapa Hadist-Hadist Yang Lemah dan Palsu Tentang Keutamaan Shalat Dan Puasa Di Bulan Rajab :

Hadits Pertama

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ.( لاَ تَغْفُلُوْا عَنْ أَوَّلِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ فَإِنَّهَا لَيْلَةٌ تُسَمِّيْهَا الْمَلاَئِكَةُ الرَّغَائِبَ…)

“Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.” (“Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya Raghaa-ib…”

 Komentar Ulama:

1. Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): “Hadits ini maudhu’.” [Lihat Maudhu’atush Shaghani (I/61, no. 129)]

2. Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): Maudhu’

3. Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): Maudhu’

4. Imam adz-Dzahaby: Maudhu’

 

Hadits Kedua

فَضْلُ شَهْرِ رَجَبٍ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ وَفَضْلُ شَهْرِ شَعْبَانَ كَفَضْلِي عَلىَ سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ، وَفَضْلُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى سَائِرِ العِبَادِ.

“Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur-an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.”

Komentar Ulama:

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadits ini palsu.” Lihat al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H).


Hadits Ketiga

مَنْ صَلَّى الْمَغْرِبَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا عِشْرِيْنَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدُ مَرَّةً، وَيُسَلِّمُ فِيْهِنَّ عَشْرَ تَسْلِيْمَاتٍ، أَتَدْرُوْنَ مَا ثَوَابُهُ ؟ فَإِنَّ الرُّوْحَ اْلأَمِيْنَ جِبْرِيْلُ عَلَّمَنِيْ ذَلِكَ. قُلْنَا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ: حَفِظَهُ اللَّهُ فِيْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَأُجِيْرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَازَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ.

“Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab, kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka’at, setiap raka’at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian.” Kami berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: ‘Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.’”

 Komentar Ulama:

Ibnul Jauzi: “Hadits ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah majhul (tidak dikenal biografinya).”

 Lihat al-Maudhu’at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits Maudhu’at oleh as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at (II/89), oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Araaq al-Kinani (wafat th. 963 H).

 

Hadits Keempat

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ وَصَلَّى فِيْهِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ مِائَةَ مَرَّةِ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَ فِي الرَّكَعَةِ الثَّانِيَةِ مِائَةَ مَرَّةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد, لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ يُرَى لَهُ.

“Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat raka’at, di raka’at pertama baca ‘ayat Kursiy’ seratus kali dan di raka’at kedua baca ‘surat al-Ikhlas’ seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati).”

 Komentar Ulama:

1.    Ibnul Jauzy: “Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta seorang perawi yang bernama ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadits.” [Al-Maudhu’at (II/123-124)]

2.    Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah rawi yang lemah. [Lihat Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)]

 

Hadits Kelima

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ عَدَلَ صِيَامَ شَهْرٍ.

“Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab (ganjarannya) sama dengan berpuasa satu bulan.”

Komentar Ulama:

1.    Ibnu Hajar al-Asqalani: Hadits Palsu karena ada al-Furaat bin As-Saa’ib adalah seorang rawi yang matruk.

2.    Imam An-Nasa’i: Maudhu’ karena ada al-Furaat bin As-Saa’ib adalah seorang rawi yang matruk.

3.    Imam Bukhari: Maudhu’ karena ada al-Furaat bin As-Saa’ib adalah seorang rawi yang matruk.

4.    Ad-Daraquthni: Mudhu’ karena ada al-Furaat bin As-Saa’ib adalah seorang rawi yang matruk.

 

Hadits Keenam

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ نَهْراً يُقَالُ لَهُ رَجَبٌ مَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضاً مِنَ اللَّبَنِ، وَأَحْلَى مِنَ العَسَلِ، مَنْ صَامَ مِنْ رَجَبٍ يَوْماً وَاحِداً سَقَاهُ اللهُ مِنْ ذَلِكَ النَّهْرِ.

“Sesungguhnya di Surga ada sungai yang dinamakan ‘Rajab’ airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu, barangsiapa yang puasa satu hari pada bulan Rajab maka Allah akan memberikan minum kepadanya dari air sungai itu.”

Komentar Ulama

1.    Imam Adz-Dzahabi: “Mansyur bin Yazid al-Asadiy meriwayatkan darinya, Muhammad al-Mughirah tentang keutamaan bulan Rajab. Mansyur bin Yazid adalah rawi yang tidak dikenal dan khabar (hadits) ini adalah bathil.” [Lihat Mizaanul I’tidal (IV/ 189)]

2.    Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albany berkata: “Musa bin ‘Imraan adalah majhul dan aku tidak mengenalnya.” [Lihat Silsilah Ahaadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah (no. 1898).]

 

Hadits Ketujuh

مَنْ صَامَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ كُتِبَ لَهُ صِيَامُ شَهْرٍ وَمَنْ صَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبَ أَغْلَقَ اللهُ عَنْهُ سَبْعَةَ أَبْوَابٍ مِنَ النَّارِ وَمَنْ صَامَ ثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ مِنْ رَجَبٍ فَتَحَ اللهُ ثَمَانِيَةَ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ صَامَ نِصْفَ رَجَبَ حَاسَبَهُ اللهُ حِسَاباً يَسِيْراً.

“Barangsiapa berpuasa tiga hari pada bulan Rajab, dituliskan baginya (ganjaran) puasa satu bulan, barangsiapa berpuasa tujuh hari pada bulan Rajab, maka Allah tutupkan baginya tujuh buah pintu api Neraka, barangsiapa yang berpuasa delapan hari pada bulan Rajab, maka Allah membukakan baginya delapan buah pintu dari pintu-pintu Surga. Dan barangsiapa puasa nishfu (setengah bulan) Rajab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah.”

Hadits ini termaktub dalam kitab al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits al-Maudhu’ah (no. 288). Setelah membawakan hadits ini asy-Syaukani berkata: “Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya, al-Laaliy al-Mashnu’ah, ia berkata: ‘Hadits ini diriwayatkan dari jalan Amr bin al-Azhar dari Abaan dari Anas secara marfu’

Komentar Ulama:

Dalam sanad hadits tersebut ada dua perawi yang sangat lemah:

 

1.        ‘Amr bin al-Azhar al-‘Ataky)

       • An—Nasa’i: Matrukul Hadits

       • Imam Bukhari: Kadzdzab

       • Imam Ahmad: Pemalsu Hadits

 

2.        Abaan bin Abi ‘Ayyasy (Tabi’in Shaghir)

       • Imam Ahmad: Matrukul Hadits

       • An-Nasa’i: Matrukul Hadits

         Yahya bin Ma’in: Matrukul Hadits

 

Hadits Kedelapan

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ، قَالَ: «اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَارِكْ لَنَا (وَبَلِّغْنَا) فِي رَمَضَانَ»

Dulu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki bulan Rajab, beliau berdoa: “Yaa Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban lalu berkahi pulah (sampaikanlah) kami pada bulan Ramadhan”

Hadis ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya no. 2346, Al-Bazzar dalam Musnad no. 6496, At-Thabrani dalam Al-Ausath 3939 

Komentar Ulama:

Dalam sanad hadits tersebut terdapat rawi-rawi

1.    Zaidah bin Abi Ruqqad ini:

          Al-Bukhari : Dia Munkarul hadis

          Abu Daud: Saya tidak mengetahui hadisnya

          An-Nasai: Saya tidak tahu, siapa orang ini

          Ad-Dzhabi : Tidak bisa dijadikan hujah

          Al-Hafidz Ibnu Hajar: Munkarul hadis

 

2.    Ziyad bin Abdillah An-Numairi al-Bashri

          Abu Ubaid Al-Ajuri: Saya bertanya kepada Abu Daud tentang Ziyad ini dan beliau mendhaifkannya.

          Ibnu Hibban: Munkarul hadis. Dia meriwayatkan dari Anas beberapa riwayat, yang sama sekali tidak menyamai hadisnya orang yang terpercaya.

          Ad-Daruquthni: Dia tidak kuat

          Yahya bin Main: Hadisnya dhaif

          Ibnu Hajar: Dhaif 

Dan Ulama ahli hadits menambahkan:

An-nawawi dalam Al-Adzkar Hal. 274 menyatakan, “Kami mendapat riwayat dari Hilyatul Auliya, dengan sanad yang ada lemahnya.”

Ad-Dzahabi dalam Mizan I’tidal, 3:96, ketika menyebutkan biografi Zaidah bin Abi Ruqqad, dan beliau menyebutkan hadis, kemudian beliau berkomentar, “Dhaif.”

Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaid, 2:165 mengatakan, “Hadis ini diriwayatkan Al-Bazzar dan dalam sanadnya terdapat Zaidah bin Abi Ruqqad, Al-Bukhari mengatakan: Munkarul hadis, sementara sekelompok ulama lainnya menyatakan sebagai perwai majhul (tidak dikenal).”    

Syaikh Ahmad Syakir dalam takhrij Musnad Imam Ahmad mengatakan, “Sanadnya dhaif.” Beliau juga menegaskan bahwa riwayat ini merupakan tambahan dari Abdullah bin Ahmad, yang beliau riwayatkan dari selain bapaknya (Imam Ahmad).

Hal yang sama juga dinyatakan Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad.

Sementara Syaikh Al-Albani mengutip komentar Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 3:375 yang menyatakan,

تفرد به زياد النميري وعنه زائدة بن أبي الرقاد قال البخاري : زائدة بن أبي الرقاد عن زياد النميري منكر الحديث

Ziyad An-Numairi sendirian dalam meriwayatkan hadis ini. Sementara Zaidah bin Abi Ruqqad mengambil riwayat dari Ziyad. Bukhari mengatakan, “Zaidah bin Abi Ruqqad dari Ziyad An-Numairi, munkarul hadis.”


Hadits Kesembilan

اَلاَ اِنَّ رَجَبَ شَهْرُاللهِ اْلاَ صَمِ فَمَنْ صَامَ مِنْهُ يَوْمًا اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا اُسْتُجِيْبَ عَلَيْهِ رِضْوَانُ اللهِ اْلاَكْبَرِ

Maka barangsiapa yang berpuasa daripadanya satu hari dalam keadaan beriman dan ikhlas Ketahuilah bahwasanya bulan rajab itu adalah bulan Allah yang tuli ( bulan yang diharamkan untuk berperang kecuali bila diserang ) Niscaya menerima atasnya oleh keridhoan Allah yang besar`

Komentar Ulama:

As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah: Hadits Palsu

close
banner